Selamat Mendengarkan

Jumat, 26 Oktober 2012

Ibadah Qurban Idul Adha: Kisah Sejarah Nabi Ibrahim Dan Nabi Ismail

Nabi Ibrahim menyampaikan kepada anaknya,
إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى
“Sungguh aku telah bermimpi bahwa aku menyembelih kamu (Ismail), – Aku diperintahkan agar aku menyembelih kamu, wahai Ismail. – Bagaimana menurutkanmu Ismail? Bapak gelisah karena mimpi ini.” Ternyata jawaban dari anaknya di luar dugaan. Ia tidak mengatakan, “Jangan!”, “Tidak mau. Saya tidak mau disembelih.”, atau “Ayah jahat,” misalnya. Ternyata jawaban dari Ismail,
يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِين
“Wahai Bapakku, lakukan saja. Aku insya Allah termasuk orang-orang yang siap dengan sabar menghadapi perintah Allah ini.” “Jadi pendapatmu seperti itu?” “Iya, itu adalah perintah dari Allah. Lakukan saja, jangan ragu-ragu. Saya Insya Allah termasuk orang-orang yang sabar dalam menghadapi ujian seperti ini.” Sang orang tua, Nabi Ibrahim, mendapat dukungan terhadap mimpinya itu. Saat itu Nabi Ibrahim hanya bisa berkata, “Ya sudah, bismillah kalau begitu. Saya siapkan pisau yang tajam.” Pisau itu diasahnya bolak-balik sampai tajam betul. Jangan sampai nanti nyangkut dan sebagainya, karena anak sudah siap.
Nabi Ibrahim tidak pernah menduga bahwa anaknya, Ismail, setinggi itu kesabarannya. Bahkan dengan tegarnya ia mengatakan,
يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِين
“Bapakku, lakukan saja – jangan ragu-ragu – apa yang Allah perintahkan. Insya Allah bapak akan melihat saya tegar, siap.” Tentu saja bapaknya mendapatkan dorongan/dukungan yang luar biasa. “Kalau memang begitu, bismillah saya akan melaksanakan perintah Allah.” Diambillah golok dan diasah bolak-balik hingga tajam dengan semata-mata ingin mendapatkan ridha Allah. Anak pun tega untuk dipotong demi mendapatkan ridha Allah Swt. Ibu untuk mendapatkan ridho Allah, ada sedikit saja di rumah sudah tidak mau.
Ketika itu datanglah setan sambil berkata, “Ibrahim, kamu orang tua macam apa kata orang nanti, anak saja disembelih?” “Apa kata orang nanti?” “Apa tidak malu? Tega sekali, anak satu-satunya disembeli!” “Coba lihat, anaknya lincah seperti itu!” “Anaknya pintar lagi, enak dipandang, anaknya patuh seperti itu kok dipotong!” “Tidak punya lagi nanti setelah itu, tidak punya lagi yang seperti itu! Belum tentu nanti ada lagi seperti dia.” Nabi Ibrahim sudah mempunya tekat. Ia mengambil batu lalu mengucapkan, “Bismillahi Allahu akbar.” Batu itu dilempar. Akhirnya seluruh jamaah haji sekarang mengikuti apa yang dulu dilakukan oleh Nabi Ibrahim ini di dalam mengusir setan dengan melempar batu sambil mengatakan, “Bismillahi Allahu akbar.”
Jadi sekarang semua jamaah haji wajib melontar jumrah. Di sana jumrah itu sebenarnya sebagai tanda semacam tugu. Bentuknya semacam tiang seperti ini, semacam tugu ke atas bisa dilihat dan dilempar dengan niat bukan melempar tiangnya sebanyak tujuh kali.
Setan/iblis tidak putus asa, “Ah, bapaknya tidak bisa juga. Biar istrinya.” Istrinya didatangi sama iblis. “Kamu mempunyai suami seperti itu, masak kamu yang capek, kamu yang melahirkan, kamu yang membesarkan, suami kamu enak saja mau menyembelih anak itu. Apa kamu orang perempuan memang tidak mempunyai perasaan?” Ia dibujuk dengan bermacam-macam cara. Tapi istrinya juga sudah sama-sama bertekat karena tahu bahwa anaknya juga sudah siap seperti itu. Ia pun mengambil batu dan mengucapkan, “Bismillahi Allahu akbar.”
Kalau lemparan pertama berada di satu tempat, lemparan yang kedua berbeda.  Lemparan yang pertama sekarang diperingati sebagai jumrah aqabah. Sedangkan yang kedua adalah jumrah wustha namanya. Itu adalah ibunya. Yang terakhir setan menggoda Ismail. “Eh, kamu tidak tahu kalau hidup ini enak, kok kamu nurut saja sih. Kamu masih bisa ini masih bisa itu di dalam hidup ini. Kamu kok nurut saja padahal setelah itu kamu mati, tidak bisa apa-apa.” Ismail juga mengambil batu lalu melempar setan sambil mengucapkan, “Bismillahi Allahu akbar.” Dilemparlah setan ini tiga kali hingga sekarang berwujud menjadi jumrah sughra.
Karena setan ini sudah minggir semua sebab dilempari dan mereka tidak menggoda lagi, Ibrahim dengan mudah melaksanakan niatnya. Ismail dimiringkan ibarat kambing yang mau dipotong, dikasih ganjel, dan sebagainya. Goloknya juga sudah dicoba memang sudah tajam betul. Ketika Ibrahim mengucapkan, “Bismillahi Allahu akbar,” ternyata bukan Ismail yang dipotong tetapi Allah ganti dengan kambing gibas. Ismail tetap berada di sampingnya dalam keadaan segar bugar. Yang dipotong bapaknya ternyata adalah kambing. Itulah asal usul kurban, hari raya Kurban. Dalam bahasa arabnya berarti Idul Adha. Kemudian kita berkurban ini bahasa arabnya adalah udhhiyah, yaitu kambing kurban. “Tanggal dua puluh tujuh, ya?” Tanggal dua puluh tujuh nanti insya Allah ada hari raya Kurban. “Ibu sudah siap mau Kurban?” “Mau kurban perasaan atau mau kurban kambing?”
Baiklah ibu-ibu sekalian, untuk itu pada kesempatan ini saya ingin menjelaskan tentang kurban itu. Ibu-ibu sekalian, kurban adalah memotong kambing pada hari raya Idul Kurban atau Idul Adha. Satu ekor kambing hanya untuk satu orang. Kurban satu ekor kambing tidak boleh untuk satu rumah. Niatnya, “Ini kurbannya orang satu rumah,” tidak boleh. Satu ekor kambing itu untuk satu orang. Ia bisa saja diniati untuk si bontot, misalnya. Bisa juga diniati untuk bapaknya atau untuk istrinya atau untuk anaknya yang pertama. Silahkan muter saja. Boleh seperti itu. Kalau kita mau ramai-ramai – Alhamdulillah semuanya ada. Dananya juga cukup. Ada bapak, ada istri, ada suami, ada anak, semuanya berjumlah tujuh. Kalau ini mau dijadikan satu, bisa, yaitu dengan berkurban seekor kerbau atau sapi. Kalau pada masa Rasulullah Saw. dulu adalah unta. Itu bisa saja. Jadi kalau kerbau itu bukan untuk sendiri, tapi untuk tujuh orang. Sapi juga untuk tujuh orang. Ini bisa dilakukan seperti itu. Tetapi kalau satu ekor kambing untuk ramai-ramai, tidak boleh. Misalnya, di sini para santri per kelas ramai-ramai membeli kambing. Saya kira itu namanya bukan Kurban. Kalau kamu membeli kambing ramai-ramai dan dipotong pada hari raya Idul Kurban, itu namanya kambing shodaqoh. Itupun kalau kamu bagi-bagi. Kalau dimakan sendiri, ya namanya patungan makan bersama. “Bagaimana ustadz sebagian dibagi pada yang lain dan sebagian dimakan sendiri?” Yang dibagikan pada orang lain namanya shadaqah, sedangkan yang dimakan sendiri bukan shadaqah.
“Satu orang bisa dua atau tiga kambing?”
“Tidak apa-apa, bu. Nanti saya jelaskan, ibu-ibu sekalian. Kalau ibu paham betul, mungkin ibu bisa mengatakan, “Saya sudah kurban sampai lima puluh kali, ustadz.” Bisa saja karena itu tidak ada kaitannya dengan jumlah kalau sudah sekali ya sudah tidak perlu lagi. Baiklah ibu-ibu sekaliyan, saya jelaskan saja bagaimana Rasulullah menjelaskan pada kita tentang kurban ini. Sebenarnya setiap ibadah itu diberikan balasan oleh Allah Swt. Shalat juga diberikan balasan. Macam-macamlah balasan shalat itu; di antaranya adalah ampunan dosa. Karena yang kita minta macam-macam, maka dengan shalat itu Allah juga akan memberikan yang macam-macam; rizki lancar dan sebagainya.
Itu shalat. Sekarang kalau kurban itu apa? Rasulullah Saw. pernah ditanya oleh para sahabat,
قال أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم : ما هذه الأضاحي ؟ قال : سنة أبيكم إبراهيم
“Para sahabat bertanya kepada Rasulullah, ‘Ya Rasulullah, berkurban itu apa sih maksudnya?’” Memotong kambing kurban pada hari raya atau pada hari idul adha itu apa sih sebenarnya? Rasulullah Saw. menjawab bahwa kurban itu adalah tradisi yang dilakukan oleh kakekmu Ibrahim as. Jadi Nabi Ibrahim itu yang pertama kali berkurban. Pada awalnya niat Nabi Ibrahim sebenarnya bukan mengurbankan kambing. Karena menjalankan perintah Allah Swt. anaknya siap untuk dijadikan kurban. Tetapi Allah menggantinya dengan hewan kurban. Sejak Nabi Ibrahim memotong anaknya dan ternyata itu adalah kambing, Nabi Ibrahim melakukan seperti itu. Ini adalah tradisi yang telah dilakukan oleh kakekmu Nabi Ibrahim.
قالوا : فما لنا فيها ، يا رسول الله ؟ قال : بكل شعرة من الصوف حسنة .
Para sahabat bertanya lagi, “Kalau kita berkurban, kita dapat apa?” “Kita dapat apa kalau kita berkurban, wahai Rasulullah?” Artinya, kita nanti akan dibalas apa oleh Allah Swt.? Rasulullah menjawab bahwa setiap rambut dari bagian-bagian yang ada di kambing itu Allah akan berikan satu kebaikan. “Ibu, ada yang pernah menghitung rambut di telinga ini berapa?” Banyak sekali jumlahnya. Di kaki saja, di kikil kaki yang biasa ibu bakar itu kira-kira berapa rambutnya? Atau di mata itu yang sedikit itu berapa rambutnya?
لكل شعرة حسنة
“Setiap satu rambut itu Allah akan berikan kebaikan.” Ibu ingin kebaikan kan? Baju ingin yang baik. Makanan yang dimakan maunya juga makanan yang baik. Semuanya ingin dalam kondisi yang baik. Rizki yang kita dapatkan juga rizki yang baik. Segala sesuatunya ingin yang baik-baik. Allah akan berikan satu kebaikan untuk setiap rambutnya. Jadi besar sekali pahalanya itu, bu. Pertanyaan tadi, “Kita sudah satu kali berkurban, kalau dua atau tiga kali apa tidak kebanyakan, ustadz?” Apa ada orang yang sudah merasa cukup dengan mendapatkan kebaikan dengan jumlah tertentu? Yang namanya manusia sudah mendapatkan yang banyak juga ingin lebih banyak lagi.
Nah, jadi kalau ibu-ibu memang benar-benar ingin kebaikan, ayo silahkan. Kalau tahun ini tidak bisa, tahun depan masih ada barangkali. Niati beli kambing yang masih kecil, harganya tidak seberapa. Kambing itu dipelihara selama satu tahun. Kalau sudah besar, dipotong, sudah bisa jadi kurban. Setiap rambut itu akan Allah berikan kebaikan. Berapa banyak kebaikan yang Allah berikan pada diri kita? Kalau kita bilang tidak terhitung banyaknya karena kita belum pernah menghitung dan saya yakin di dunia ini belum pernah ada orang yang mencoba menghitung. Itulah kebaikan yang Allah tawarkan. Allah tawarkan kepada Ibu-ibu, apakah Ibu mau mengambil kebaikan ini atau tidak. Silahkan, kalau memang mau, “Bismillah, dari sekarang nawaitu (saya niat),” sudah niat Ibu mau kurban. Ibu semua mau kurban, bu? Soal kapannya asal sekarang sudah niat, ya bu ya? Tidak bisa tahun ini, tahun depan. Tidak bisa tahun depan, tahun depannya lagi. Kalau kambing itu sekarang ini harganya satu juta yang besar, misalnya, untuk kurban, kalau Ibu menabung satu hari seribu saja, tiga tahun ibu sudah bisa kurban. Seribu, satu hari seribu. Kalau Ibu menabung lima ribu per hari, satu tahun Ibu bisa kurban dua ekor. Pilih yang mana, Bu? Pilih anaknya sekarang berapa? Yang anak mungkin tiga ratus atau dua ratus. Tapi kadang-kadang orang  yang mempunyai anak kambing bilang, “Tidak mau saya jual, masih kecil, kasihan.” Anak kambing umur enam bulan lepas dari susuan sekarang bisa sekitar tiga ratus atau mungkin empat ratus. Dipelihara satu tahun sudah langsung bisa untuk kurban. Tapi itu kan besar. Kalau Ibu mau dengan modal kecil, itu tadi juga bisa. Satu hari menyimpan lima ribu misalnya, maka satu tahun ibu sudah bisa kurban dua. Berarti kalau satu ekor, ya ibu menabung dua ribu lima ratus. Ibu menyimpan dua ribu setiap hari, insya Allah Ibu juga dapat untuk kurban itu selama satu tahun. Kira-kira ibu bisa menyimpan satu hari seribu, Bu? Bu, kira-kira bisa tidak? Bagaimana Bu? Apa kita di sini perlu ada simpanan untuk kambing kurban begitu? Nanti dicatat begitu Ibu? Bu, ini sudah lima ratus lebih ni Bu. Biarin masih nambah lagi misalnya, apa begitu? Boleh saja kita bantu. Kita bantu ibu menabung untuk kurban misalnya. Itu bisa saja, kalau Ibu mau.
لكل شعرة حسنة
“Setiap rambut itu akan menghasilkan satu balasan kebaikan dari Allah Swt.” Ini yang menarik bagi kita untuk kurban. Yang lain Rasulullah Saw. juga pernah menyampaikan kepada anaknya, Fatimah,
يا فاطمة قومي إلى أضحيتك فاشهديها فإن لك بأول قطرة تقطر من دمها يغفر لك ما سلف من ذنوبك قالت يا رسول الله هذا لنا خاصة أهل البيت قال لنا وللمسلمين
“Hai Fatimah, kamu sana lihat kambing kurbanmu! Kamu saksikan, Kamu lihat itu! Kambing kurbanmu lagi dipotong itu.” Fatimah ini anaknya. “Kamu coba lihat, darah yang pertama kali menetes jatuh ke tanah itu akan bisa menghapuskan dosa-dosamu, akan bisa menghilangkan, menghapuskan dosa-dosamu.” Jadi bukan saja bulunya yang Allah berikan balasan, yaitu setiap bulu itu satu kebaikan, tetapi darah yang menetes pertama kali itu akan bisa menghapuskan dosa-dosa yang telah kamu lakukan. Ini kata Rasulullah.
Ibu ingin dosanya diampuni? Tinggal  lakukan itu. Di sini ternyata darah yang menetes pertama kali itu akan bisa melenyapkan dosa-dosa yang telah lalu. Fatimah bertanya karena terkejut melihat begitu banyaknya, setiap bulu diberikan balasan dengan kebaikan kemudian sekarang setiap darah yang menetes bisa menghapuskan dosa,
قالت يا رسول الله هذا لنا خاصة أهل البيت قال لنا وللمسلمين
“Ya Rasulullah, apakah ini khusus untuk kita ahlul bait, keluarga Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Ini semua bagi siapa saja yang melakukan kurban itu akan mendapatkan seperti itu. Bukan hanya kita, keluarga rasul, tetapi juga seluruh orang Islam yang berkurban.” Bagaimana kalau yang kurban itu orang-orang kafir? Kadang-kadang orang kafir kalau seperti ini ikut-ikutan kurban, bu. Mereka membagi-bagi daging; orang Hindu, PT-PT, perusahaan, china-china itu melakukan kurban.
Orang-orang kafir itu, orang-orang yang bukan Islam itu, dikatakan di dalam al-Quran,
أعمالهم كسراب
“Amal perbuatan mereka itu seperti fatamorgana.”
Fatamorgana itu, kalau ibu lihat jalan yang baru diaspal dari jauh seakan-akan ada airnya, sepertinya ada airnya begitu, basah begitu, dari jauh kelihatannya basah, itu kalau di padang pasir kelihatannya seperti lautan, biru begitu, dilihat ada lautan di depan situ. Fatamorgana itu sering menipu orang. Kalau dihampiri sepertinya dekat di situ, tapi di depan sini tidak ada, masih ada di depan lagi begitu. Jadi orang yang mengejar fatamorgana itu tidak tahu semakin jauh sekali sudah terlewati. Itu fatamorgana. Biasanya pada siang hari kita lihat itu di jalan. Kalau kita di daerah sini tidak terlalu terasa karena naik turun, juga karena jalannya rusak. Tetapi kalau seperti jalan di Jakarta, di jalan tol dan sebagainya, biasanya seperti ada airnya, padahal bukan air. Kalau di padang pasir seakan-akan di depan ada air seperti laut, tetapi saat dihampiri ke sana, semakin jauh ternyata tidak ada di situ, masih di depan terus, di mana ini tempatnya? Nah, amal kebaikan yang dilakukan oleh orang-orang kafir, orang-orang non muslim itu, bagi mereka yang melakukan seakan-akan akan mendapatkan balasan, akan mendapat pahala, dibalas oleh Allah, tetapi kenyataannya mereka tidak mendapatkan apa-apa. Itu seperti PT-PT, China-china juga banyak, Bu. Katanya Extra Joss itu kurban satu juta kambing. Saya tidak tahu apakah orang Islam atau bukan? Tapi yang jelas saat kita diberi kambing, asalkan cara memotongnya benar, itu halal-halal saja, sekalipun yang memberi itu orang kafir. Orang kafir mengasih kambing hidup pada kita, kita terima apa tidak, Bu? Asal kita memotongnya dengan cara Islam, ya halal-halal saja. Tetapi kalau sudah dipotong oleh mereka, nah, di sini sekalipun kambing, kita harus menanyakan siapa yang memotong? Mereka. Mereka membaca bismillah atau tidak?
ما أهل لغير الله
Jadi ia dipotong bukan dengan nama Allah. Sekalipun ayam atau kambing itu menjadi haram.
Hati-hati Ibu membeli daging di pasar! Kadang-kadang ayam sudah mati, tapi dipotong dengan menggunakan mesin semuanya. Mereka telah dipotong sekalipun asalnya mati. Ibu-ibu bisa tidak membedakan ayam ini mati sebelum dipotong atau mati setelah dipotong? Bisa tidak, Bu? Sekarang bangkai itu dikasih kunyit sehigga tidak tampak lagi biru. Semuanya tampak kuning. Begitu kan? Ini sulit sekali, Bu. Saya di sini pernah memelihara ayam. Perhatikan, Bu, pengalaman saya. Ayam ini ketika ditangkap ada yang mati. Tapi yang mati ini oleh yang beli, yang bawa mobil, yang menempatkan ayam di keranjang-keranjang itu dibawa saja, padahal ayam itu sudah mati. Katanya nanti untuk pakan ini. Itu alasannya kepada kita. Tetapi di sana nanti masuk ditimbang lagi, masuk nanti akan dibayar. Artinya bangkai itu dijual. Bangkai itu nanti akan dipotong dan dicampur dengan yang ada. Apalagi kalau tidak dijual masih dalam keadaan utuh. Sekarang kan ayam dikuliti, diambil dagingnya, dijadikan nuget dan macam-macam, Bu; bakso, sate, dan sebagainya, semakin tidak tampak lagi, dijual untuk bubur ayam, untuk bakso, untuk sate, dipotong-potong, ditusuk-tusuki, kemudian dibakar, mau tampak apa? Rasanya sama saja. Nah, yang seperti ini semakin meragukan karena hampir setiap orang membeli ayam itu seperti itu. Maka kalau kita tidak yakin betul bahwa yang menyembelih itu orang Islam atau bukan, lebih baik ibu membeli ayam hidup  kemudian dipotong sendiri. Itu lebih aman.
Di Jakarta sekarang, Ibu-ibu sekalian, – saya kira tidak hanya di Jakarta, tapi sudah merambah kemana-mana, – daging sapi, daging kerbau, itu dicampur dengan daging babi karena jumlah babi di Indonesia lebih banyak daripada jumlah sapi dan kerbau. Kalau sapi beranak satu-satu, satu tahun satu. Babi sekali beranak, katanya Bu, seperti kelinci saja. Ini dimanfaatkan oleh para tukang potong yang sekarang. Kalau dulu tukang potong itu umumnya orang Islam, Bu. Sekarang orang-orang China juga menjadi tukang potong, Bu. Mereka menjadi tukang potong ayam, tukang potong sapi, ya sudah kacau balau. Kadang-kadang seperti itu dibiarkan saja oleh pemerintah; tidak ada persyaratan harus orang Islam karena di sini kebanyakan orang islam, tidak ada yang seperti itu. Yang penting sudah ada izin, beres.
Saya melihat seperti di Pal Merah itu China-china itu menjadi tukang potong ayam. Karena mereka ingin mendapatkan keuntungan yang banyak, dimasukkan daging babi, dioplos seperti itu. Inilah resikonya kalau orang tidak tahu agama. Kita yang beragama ini akan kena juga. Memang resikonya seperti itu. Pemerintah juga kadang-kadang begitu, Bu. Apa tidak diperiksa oleh pemerintah? Diperiksa. Tapi tukang periksanya juga dikedipi mata saja, sudah tahu dia. Jangan macam-macam lah! Sebelum memeriksa, dicegat dulu. Kalau perlu dikasih minum dulu, dikasih rokok dulu. Jadi sudah kacau balau, sudah kacau balau masalah daging-daging seperti ini.
Ibu-ibu sekalian saya lanjutkan, jadi tetesan darah pertama akan menjadi penghapus dosa kita. Ini untuk kita semua, orang Islam, bukan hanya keluarga Rasulullah seperti yang tadi ditanyakan oleh Fatimah, “Kok begitu besarnya, begitu banyaknya, apakah ini khusus untuk kita-kita ini, ya Rasulullah, keluarga nabi?” Bukan, ini untuk kita dan juga orang lain akan Allah berikan sama seperti itu.
Kemudian Rasulullah menjelaskan lagi di yang lain,
يا فاطمة قومي فاشهدي أضحيتك فإن لك بأول قطرة من دمها مغفرة من كل ذنب أما إنه يجاء ولحمها ودمها توضع في ميزانك سبعين ضعفا
Rasulullah masih menyuruh Fatimah supaya dia melihat binatang kurban ketika dipotong, “Cepat kamu lihat itu!” Di samping setiap darah yang menetes ini akan mencuci dosa-dosa kita, menghapuskan dosa-dosa kita, kata Rasulullah, nanti binatang kurbanmu itu akan datang dengan lengkap – termasuk darahnya – dan akan diletakkan di timbangan kebaikanmu. Kalau kambing yang kita timbang itu hanya tiga puluh kilo, diganti oleh Allah dengan tujuh puluh kali lipat, bu. Biasanya kambing kurban ada yang tiga puluh kilo. Yang besar ada yang empat puluh kilo. Kalau yang kecil-kecil dua puluh lima kilo, misalnya. Itu nanti ketika diletakkan di timbangan kebaikan bukan hanya dua puluh kilo atau tiga puluh kilo, tetapi dikalikan tujuh puluh kali lipat. Jadi kalau misalnya tiga puluh kilo, maka dikalikan tujuh puluh kilo, berapa ya, Bu? Tiga kali tujuh, dua ribu seratus. Dua ribu, dua ton, dua puluh kuintal, dua puluh satu kuintal. Jadi besar sekali pahala kurban ini. Tadi dari sisi rambutnya saja sudah tidak terhitung. Dari sisi rambut sudah tak terhitung, dari sisi darahnya saja bahwa darah yang menetes itu akan menghapuskan dosa-dosa kita yang telah kita lakukan, kemudian juga timbangan kita nanti akan Allah lipat gandakan sampai tujuh puluh kali lipat dari kambing yang kita kurbankan. Luar biasa masalah kurban ini.
قال أبو سعيد : يارسول الله ، هذ لآل محمد خاصة فهم اهل لما خصوا به من خير أو لآل محمد والمسلمين عامة
Karena kaget melihat begitu besarnya pahala, Abu sa’id juga hampir-hampir tidak percaya itu karena besar sekali. Maka ia bertanya, “Apakah ini khusus untuk keluarga Nabi Muhammad saja? Masa kita juga bisa dapat seperti begitu? Rasanya sepertinya tidak layak mendapatkan bagian seperti itu. Ini barangkali khusus untuk keluarga Rasul.” Tapi dijawab oleh Rasulullah, “Itu tidak hanya untuk kami keluarga Muhammad, tetapi untuk seluruh kaum muslimin.” Ini ditegaskan lagi. Fatimah juga pernah bertanya seperti itu juga. Tapi dijawab oleh Rasul, “Bukan, bukan hanya untuk kita. Semua akan mendapatkan seperti itu.” Abu Sa’id rupanya juga seperti tidak percaya, “Apa iya, kok besar sekali seperti itu. Ini barangkali untuk keluarga Nabi Muhammad saja.” Tapi dijawab oleh Rasul Saw., “Ini untuk semua orang-orang Islam.” Inilah tentang kurban, dari pahalanya memang cukup luar biasa. Tetapi kita semua kadang-kadang menganggap, “Alah, itu kan cuma sunnah saja, ya Rasulullah. Kalau melakukan, dapat pahala. Kalau tidak melakukan, tidak apa-apa.” Kita kadang-kadang salah dalam memahami agama bahwa kalau yang sunnah itu ya kalau bisa, kalau tidak kan tidak apa-apa, tidak dosa, padahal kita hidup ini untuk mendapatkan kebaikan. Jangan pernah Ibu merasa sudah cukup modal untuk hidup yang kekal abadi di akhirat nanti. Jangan pernah Ibu merasa cukup selama ini, padahal ibu masih akan hidup besok, minggu depan, bulan depan, tahun depan, maunya juga masih hidup sepuluh tahun lagi, dua puluh tahun lagi, tiga puluh tahun lagi, Ibu masih perlu kebaikan-kebaikan, ibu masih perlu balasan dari Allah Swt, yang balasan dari Allah itu, saya ingatkan sekali lagi pada Ibu-ibu sekalian, tidak hanya di akhirat, tetapi di dunia pun orang yang banyak melakukan kebaikan-kebaikan akan dimudahkan oleh Allah Swt, diberikan kebaikan-kebaikan oleh Allah Swt.  Mari kita adakan gerakan untuk kurban ini. Kalau memang perlu adanya tabungan untuk kurban, saya siap melayani. Tidak kurban tahun depan, tahun berikutnya insya Allah bisa. Meskipun cuma menabung seribu, nanti akan jadi banyak. Mungkin ada yang bisa satu tahun, dua tahun, tiga tahun, tidak apa-apa, daripada ditanya, “Ingin kurban?”, bilangnya, “Ingin,” tapi sampai mati tidak kurban juga. Kita ingin mendapatkan kebaikan yang ditawarkan yang sangat banyak.
Kita lihat lagi keistimewaan lain dari kurban ini. Tadi kata Rasulullah Saw, dari sisi bulunya akan dibalas oleh Allah Swt., dari sisi darahnya bahwa setiap darah yang menetes itu akan menghapuskan setiap dosa yang telah kita lakukan, dari sisi beratnya itu nanti oleh Allah Swt. akan dibalas dengan tujuh puluh kali lipat. Di dalam hadits ini,
روي عن علي رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : يا أيها الناس ، ضحوا واحتسبوا بدمها فإن الدم وإن وقع في الأرض فإنه يقع في حرز الله عز وجل
Dari Ali ra. Nabi Saw. bersabda, “Wahai manusia, berkorbanlah kamu sekalian dan harapkan dari kurbanmu itu dengan darahnya, yakni dari apa yang dibailk darahnya. Karena darah kurban itu sekalipun jatuh ke tanah, sebenarnya ia tidak jatuh ke tanah tapi jatuh di pangkuan Allah.” Kalau darah tersebut jatuh ke pangkuan Allah, maka Allah akan berikan apa yang menjadi keinginanmu, Allah akan memberikan balasan kepadamu.
Pada hadits yang lain,
وروي عن حسين بن علي رضي الله عنهما قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : من ضحى طيبة نفسه محتسبا بأضحيته كانت له حجابا من النار
Husain, cucu Nabi, meriwayatkan sebuah hadits, “Barangsiapa yang berkurban dengan ikhlas, dengan senang hati, dia semata-mata hanya mengharapkan ridha Allah dari kurbannya itu, maka dia akan mendapatkan tabir (pelindung) yang menghalangi dia dari neraka.” Ia akan mendapatkan pelindung sehingga dia tidak pernah masuk ke dalam neraka. Jadi kambing itu akan menghalangi kita masuk neraka kalau kita berkurban dengan ikhlas, bukan karena ingin masuk berita dan sebagainya. Pelindung dari neraka itu tidak hanya berupa seekor kambing. Kalau hanya seekor kambing, yang dilindungi hanya pada bagian tertentu saja, padahal neraka kan begitu luasnya. Tentu saja yang Allah Swt. berikan adalah bobotnya, yaitu dikalikan tujuh puluh, satu kilo dikalikan tujuh puluh kilo, misalnnya. Untuk itu, hendaknya bagi yang mampu untuk berkurban segera. Yang memiliki rizki silahkan berkurban. Kalau tidak bisa, ya tahun depan. Mari berdo’a agar tahun depan bisa ikut berkurban.
Kalau ibu susah beli kambing, di pesantren ini banyak kambing. Kambing kita di pesantren ini yang sudah memenuhi syarat untuk kurban kira-kira ada 310 ekor. Harganya ibu tinggal pilih. Mau pilih yang besar, silahkan. Mau pilih yang sedang-sedang saja, silahkan. Mau pilih yang agak kecil tapi memenuhi syarat, juga silahkan. Semuanya ada. Harga persisnya saya kurang tahu. Pak Trimo tukang kambingnya. Kambing kita dititipkan di kampung-kampung dengan sistem bagi hasil. Di sini ada wali murid yang daerahnya cocok sekali untuk beternak kambing, di daerah Pamijahan.
Ibu-ibu, kalau tidak bisa berkurban sekarang, kita berdoa terus, mudah-mudahan tahun depan bisa berkurban. Syukur-syukur setiap anak kita aqiqahi. Kita sebagai orang tua akan senang, kalau setiap anak sudah kita aqiqahi, setiap anak juga sudah kita potongkan kambing kurban untuk anak kita, di samping diri kita.
Orang yang kurban dengan jiwa yang tenang, yang ikhlas, tidak macam-macam, tidak ingin namanya dicantumkan di televisi, di surat kabar, pokoknya ikhlas saja, hanya mengharapkan ridha Allah, maka oleh Allah kurban itu akan dijadikan penghalang bagi kita untuk masuk ke dalam neraka. Sehingga kita tidak akan masuk neraka karena ada penghalangnya yang Allah ciptakan sebagai pengganti dari kambingnya itu.
Orang Arab, kurbannya sudah sampai ke mana-mana, karena orang Arab itu sudah biasa. Kambing itu sudah bukan sesuatu yang istimewa. Kurbannya ke mana-mana, ke seluruh Indonesia. Tahun lalu kita juga dapat dari Arab. Biasanya ada telpon, “Ini ada kambing sepuluh, potong di sini, bagi-bagi.” Itu karena orang Arab tahu keistimewaan kurban. Kita ini kan jarang tahu tentang hal ini. Pengajian di kampung-kampung juga jarang dibaca tentang yang begini ini, sehingga kadang-kadang kalau berkurban, kita meniru saja. Dulu si anu kurban, ya ikut kurban. Sehingga kita kadang-kadang tidak mengerti. Ada orang lain kurban, ya kita ikut kurban. Tentang dapat apa, seperti kata sahabat tadi, “Kita dapat apa, Rasulullah?” Ternyata setiap bulu akan Allah ganti dengan kebaikan, setiap darah yang menetes akan bisa menghapuskan dosa kita, kambingnya itu nanti akan lengkap dan timbangannya akan dikalikan tujuh puluh kali lipat. Itu banyak sekali. Bahkan, Fathimah, putri Rasulullah Saw. bertanya, “Ya Rasulullah, ini untuk kita saja, untuk keluarga?” Jawab Rasul Saw., “Bukan, untuk kita dan untuk semua orang Islam.” Orang luar, Abu Sa’id, ketika mendengar juga berkata, “Ini untuk keluarga Nabi saja?” Rasulullah Saw. menjawab lagi, “Bukan, ini untuk umat Islam seluruhnya.”
Ternyata  bukan hanya bobotnya yang dilipatgandakan menjadi tujuh puluh kali lipat, tetapi kambingnya ini nanti akan diganti dengan sebuah dinding yang tebal, yang bisa menghalangi kita dari neraka. Bayangkan, saat kita menuju surga, kita harus melewati shirathol mustaqim, yang kata guru ngaji saya, itu sebesar rambut dibagi tujuh. Orang naik baru kakinya yang menempel langsung jatuh sedangkan di bawahnya itu adalah neraka. Kalau kita berkurban, maka ada sesuatu yang menghalangi kaki kita agar tidak jatuh, mungkin bisa berupa mobil, mungkin bisa berupa sandal, yang tidak bisa masuk ke neraka. Dan ini untuk semua umat Islam bukan hanya untuk keluarga Nabi Saw.
Di sini juga ada hadits yang lain. Rasulullah Saw. menyatakan,
ما أنفقت الورق في شيء أحب إلى الله من نحر ينحر في يوم العيد
“Tidak ada uang yang digunakan untuk membeli sesuatu yang lebih Allah sukai daripada uang itu digunakan untuk membeli binatang kurban dan dikurbankan pada hari Idul Kurban.”
Kita kan suka belanja. Yang paling disukai oleh Allah Swt. berbeda dengan yang kita sukai. Jika kita punya uang banyak, kita gunakan untuk membeli baju yang bagus, kita gunakan untuk membeli makanan yang paling enak, dibelikan apa-apa yang paling bagus. Tapi Rasulullah Saw. menyatakan, “Tidak ada yang lebih baik daripada uang yang kita gunakan untuk membeli kambing untuk dikurbankan pada hari Raya Idul Kurban.” Itu yang paling Allah sukai. Anak kambing namanya apa, bu? Kalau di Jawa, anak kambing namanya cempe, anak sapi namanya pedhet, anak kerbau namanya gudhel. Di Sunda saya kira juga ada, mungkin ibu tidak paham. Ibu membeli anak kambing yang kecil kemudian di besarkan, atau menabung seperti tadi.
Baiklah Ibu-ibu sekalian, mari kita gali terus apa yang disampaikan oleh Rasulullah Saw. tentang kurban ini. Selanjutnya adalah hadits yang disampaikan oleh Abu Umamah ra.
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : خير الأضحية الكبش وخير الكفن الحلة (رواه أبو داوو والترمذي)
Dijelaskan lagi bahwa sebaik-baik kurban adalah al-kabsy, yaitu kambing yang bertanduk. Itu yang paling bagus untuk kurban. Yang lain juga boleh, tapi yang ini dianggap yang paling bagus. Di Indonesia ada kambing Jawa, kambing gibas, kambing garut, dll. Yang paling bagus adalah yang punya tanduk.
Rasulullah juga menyatakan,
من وجد ساعة لأن يضحي فلم يضحي فلا يحضر مصلانا
Ini penting sekali. “Orang yang dalam kondisi longgar, mempunyai uang untuk sekedar berkurban, beli seekor kambing, tapi dia tidak mau melakukan itu, maka janganlah ke mushalla kami.” Ini adalah peringatan keras dari Rasulullah Saw. Dia sudah punya duit, disuruh kurban tidak mau. Dia tidak akan bisa dekat dengan Rasulullah Saw. karena pahalanya kurang, tidak memenuhi syarat. Ini seharusnya membuat kita berpikir, “Kalau begitu, harus berkurban supaya kita bisa dekat dengan Rasulullah Saw.” Jadi kita harus niat jangan sampai kita berpikiran, “Ya kalau bisa kurban, kalau tidak bisa tidak dosa kan?” Tidak dosa, tapi juga tidak mendapat pahala. Kalau kita tidak mendapat pahala mau apa? Sedangkan kita bisa menikmati surga itu kalau kita punya bekal pahala. Kalau kita tidak mempunyai bekal, kita tetap saja di neraka. Maka kita harus berpikir bagaimana supaya kita bisa berkurban. Kita tidak perlu memikirkan yang lampau. Yang sudah biarlah yang sudah. Tapi kita masih punya waktu, inilah yang harus kita pikirkan. Sebenarnya orang Islam itu kalau benar-benar menjalankan ajaran Islam, semuanya bisa berkurban. Apalagi janji Allah tadi bahwa orang yang berkurban itu akan diganti oleh Allah, tidak hanya di akhirat. Yang tadi dijelaskan itu memang di akhirat, tetapi pada minggu lalu sudah disampaikan bahwa setiap hari ada malaikat yang Allah turunkan untuk memantau umat ini. Bahkan masing-masing dari kita ini ada malaikat yang memantau usaha kita, perbuatan kita. Ketika kita mengeluarkan uang, malaikat ini langsung berdoa,
اللهم أعط منفقا خلفا
“Ya Allah, berikanlah ganti. Dia mengeluarkan uangnya untuk bayar kurban. Ya Allah, gantilah ia.” Malaikat ini terus mendoakan. Ketika kita ada uang tapi tidak mau membeli kurban, malaikat yang satunya mendoakan,
اللهم أعط ممسكا تلفا
“Ya Allah, orang ini bakhil ya Allah, tidak mau mengeluarkan uang padahal dia mempunyai uang. Hancurkan ia, ya Allah.” Na’udzubillahi min dzaalik. Dia bisa, tapi dia tidak mau mengeluarkan. Dia pelit, bakhil. Maka Rasulullah Saw. mengatakan lagi, “Orang yang mempunyai kemampuan, tapi tidak mau berkurban, maka jangan dekat-dekat masjidku, jangan dekat-dekat tempat shalatku.” Artinya, kalau orang itu tidak boleh dekat-dekat dengan Rasulullah, lalu dimana tempatnya?  Kita ingin dekat dengan Rasulullah. Kita ingin masuk surga seperti Rasulullah Saw., ingin di dalam surga dan sebagainya, tapi sudah ditolak karena kepelitan ini. Pelit itu sebenarnya penghalang segalanya. Orang yang hidupnya pelit, bakhil, dan kikir tidak akan maju. Rizkinya juga sangat minim sekali. Tapi orang yang dermawan semakin banyak gantinya oleh Allah Swt. Ia akan menjadi semakin kaya. Maka kita jangan pelit, sekalipun pelit ini mempunya banyak sekali pengertian, tidak hanya dalam hal harta. Misalnya, seorang karyawan bekerja hanya banyak istirahat. Sedangkan temannya rajin sekali. Itu juga pelit. Ibu punya waktu untuk mengaji, tetapi Ibu tidak mau mengaji. Itu juga pelit waktu. Mestinya ibu bisa ngaji, tidak ada apa-apa, tapi Ibu tidak mau mengaji. Itu juga pelit waktu. Pelit itu bisa saja pelit ibadah; yang mestinya bisa ibadah tidak mau ibadah, tidak mau sholat. Pelit bisa segalanya; pelit harta benda, pelit tenaga, pelit pikiran, pelit waktu juga bisa. Nah, di sini orang tadi, orang yang sanggup berkurban, tetapi tidak mau berkurban, Nabi berkata, “Jangan dekat-dekat tempat shalatku.” Artinya, dia tidak berhak untuk masuk surga.
Pada hadits berikutnya,
من باع جلد أضحيته فلا أضحية له
Orang berkurban, dagingnya dibagi-bagi, kulitnya dijual, oleh Rasulullah Saw. dikatakan, “Dia tidak berkurban.” Dia tidak bisa diterima kurbannya. Ibu kurban dipotong, setelah dipotong, dagingnya di bagikan sedangkan kulitnya dijual, maka kurban ibu tidak diterima.  Sekarang ibu menyerahkan binatang kurban kepada panitia, oleh panitia sudah terima. Kemudian dagingnya dibagi-bagi, tapi kulitnya dijual oleh panitia. Kurban Ibu tetap diterima karena Ibu tidak mendapat uang ganti dari kulitnya. Panitia barangkali melihat ada manfaat lain, bukan untuk dibagi-bagi kepada panitia, tetapi untuk kepentingan masjid, misalnya. Mungkin boleh seperti itu.
Inilah Ibu-ibu sekalian tentang kurban. Bagaimana tentang hewan kurban? Umur hewan kurban dan tata cara berkurban. Kurban berbeda dengan aqiqah. Kurban dalam bahasa fiqihnya yaitu Udhhiyah (kurban), sedangkan aqiqah adalah memotong kambing juga tetapi bukan pada hari Raya Kurban, namun karena ada kelahiran anak. Di dalam aqiqah, kalau kita memotong kambing diupayakan supaya memotongnya jangan dihancurkan, upayakan memotongnya pada ruas-ruasnya. Misalnya, kaki kambing kan panjang karena ruasnya memang panjang, kalau begitu susah masaknya? Tidak, diambil dagingnya saja. Ini di dalam aqiqah. Kalau kurban tidak, biasa saja, dipotong-potong biasa supaya mudah dibagi-bagi, tidak ada aturan khusus. Kalau dari sisi umurnya berapa tahun yang sah untuk dikurbankan? Umurnya adalah satu tahun lebih. Artinya dua tahun jalan, satu tahun setengah boleh, satu tahun tujuh bulan boleh, tapi jangan sampai kurang dari satu tahun. Di dalam cara memotong juga jangan seenaknya. Karena ini kurban maka dipotong seenaknya. Rasulullah Saw. bersabda,
إن الله كتب الإحسان على كل شيء ، فإذا قتلتم فأحسنوا القتلة ، وإذا ذبحتم فأحسنوا الذبحة ، وليحد أحدكم شفرته ، وليرح ذبيحته
Allah berbuat kebaikan dalam segala hal, maka di dalam memotong kurban juga hendaklah dipotong dengan baik, jangan kasar, dibanting begitu saja. Sekarang ini ada model penyembelihan, sapi atau kerbau kan sulit untuk dirobohkan, ada yang di pukul dulu sehingga dia pingsan, ada yang di tembak dulu sehingga dia jatuh baru dipotong. Ini bukan cara Islam yang seperti ini, artinya disakiti dulu kemudian baru dipotong. Kita meskipun sapi atau kerbaunya galak tentu harus dengan cara yang sebaik-baiknya, kita tidak boleh memukulnya dulu.
فإذا قتلتم فأحسنوا القتلة ، وإذا ذبحتم فأحسنوا الذبحة ، وليحد أحدكم شفرته
Ketika kita memotong kambing, hendaknya memotong dengan sebaik-baiknya. Hendaknya golok atau pisau yang digunakan untuk motong itu diasah terlebih dahulu, tidak boleh asal supaya yang dipotong ini tidak begitu plocotan agar segera putus urat-uratnya, sehingga bisa segera mati.
Kemudian di sini juga dijelaskan tata caranya,
عن ابن عباس رضي الله عنهما قال : مر رسول الله صلى الله عليه وسلم على رجل واضع رجله على صفحة شاة وهو يحد شفرته ، وهي تلحظ إليه ببصرها ، قال : أفلا قبل هذا أو تريد أن تميتها موتتين
Didalam memotong juga hendaknya dia tidak boleh melihat goloknya, ditakut-takuti dulu. Maka kambingnya ditutup supaya tidak melihat, biasanya dengan daun. Binatang yang lain pun juga jangan dekat-dekat supaya nanti tidak menakut-nakuti hewan kurban yang lain. Ini tidak boleh seperti itu.
Inilah Ibu-ibu sekalian tentang kurban, yang sebentar lagi kita akan melaksanakan. Saya berharap dari pengajian ini ibu-ibu nanti sudah pasang niat, “Andaikata tidak bisa kurban tahun ini, ya tahun depan. Tahun depan tidak bisa, tahun depannya masih hidup sampai tahun depannya lagi.” Tolong supaya diniatkan agar kita bisa melakukan kurban. Saya ingatkan juga nanti ada puasa lagi. Puasa tiga belas tidak bisa karena tiga belas itu hari tasyrik di bulan dzulhijjah. Maka kita ada puasa penggantinya yaitu puasa arafah dan puasa tarwiyah sebelumnya. Nanti kita jelaskan pada saat yang akan datang, bagaimana puasa arafah bagaimana puasa tarwiyah, bagaimana asal-usulnya puasa ini, nanti akan dijelaskan pada pertemuan yang akan datang. Sekian saja pengajian pada hari, insya Allah kita lanjutkan pada pertemuan yang akan datang. Semoga Allah SWT memberikan kita kesempatan untuk berkurban. Mari kita tutup pengajian ini dengan sama-sama membaca doa.
بسم الله الرحمن الرحيم
رب زدنا علما وارزقنا فهما ، اللهم انفعنا بما علمتنا وعلمنا ما ينفعنا وارزقنا علما ينفعنا ، اللهم أعنا على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك ، سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك ، وصلى الله على سيدنا محمد النبي الأمي وعلى آله وصحبه وسلم والحمد لله رب العالمين

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Berita Populer

Egatama Radio

Archive

Configure your calendar archive widget - Edit archive widget - Flat List - Newest first - Choose any Month/Year Format